ALL ABOUT WOMAN SIDE











{June 20, 2008}   Pernikahan, Berpadunya Dua Budaya

SAAT dua insan menikah, konflik menjadi hal yang sangat umum terjadi. Seperti yang ditulis oleh Indah Mulatsih (dalam kompas.com. 4 Juni 2008), adanya berbagai perbedaan individual saat dua orang memutuskan untuk menikah akan berpotensi besar menimbulkan berbagai konflik khususnya di awal pernikahan.

Yang kemudian menjadi permasalahan, seperti yang sampaikan dalam komentar terhadap artikel tersebut oleh Reene, adalah bagaimana jika konflik antar pasangan terjadi dalam frekuensi bahkan mungkin intensitas yang tinggi. Konflik muncul hampir setiap hari dan memunculkan berbagai ”serangan” yang mematikan terhadap pasangan.

Dari contoh kasus yang disampaikan Reene dalam komentarnya tersebut, ada satu hal yang cukup penting diketahui yaitu bahwa proses pernikahan sangat kental dipengaruhi unsur lingkungan dan budaya sosial.

Pengaruh ini bahkan dapat terjadi sejak sebelum menikah, misalnya saat perkenalan dan pacaran. Tidak seperti yang terjadi pada banyak budaya yang sering kita sebut sebagai budaya ”barat”.

Dalam budaya kita, perkawinan seringkali tidak hanya merupakan masalah kesatuan dua pribadi saja tetapi juga masalah kesatuan dua keluarga, bahkan dalam banyak kasus merupakan kesatuan dua keluarga besar.

Ketika dalam budaya yang berbeda, anak diminta ”keluar” dari keluarga pada usia tertentu maka dalam budaya kita, masih banyak terjadi adanya ”ikatan kuat” antara seorang anak dan keluarganya, baik secara fisik, ekonomi, maupun psikologis, hingga sang anak berusia dewasa. Malahan dalam banyak kasus, ikatan ini tetap terjalin kuat sampai sang anak menikah bahkan memiliki anak. Akibatnya, saat sang anak mendapatkan masalah atau mencari ”zona kenyamanan psikologis”, dia akan kembali kepada keluarganya.

Sigmund Freud, seorang tokoh psikologi pendiri aliran psikoanalisis klasik, menyebut fenomena ini dengan istilah regresi yang artinya adalah mundurnya individu ke masa-masa yang nyaman sebelumnya. Regresi terjadi ketika di masa sekarang, individu tersebut berhadapan dengan kesulitan yang tidak dapat diatasi.

Tentu saja setiap budaya seperti mata uang, memiliki dua sisi yaitu sisi negatif dan sisi positif. Misalnya saja, ikatan yang kuat dalam keluarga dari sisi yang positif dapat juga mendorong perkembangan kepribadian seorang anak menjadi lebih matang karena dari keluargalah kita mendapatkan penerimaan, penghargaan, dan juga mempelajari berbagai hal dalam kehidupan ini untuk pertama kalinya.

Dengan adanya keunikan budaya kita ini, setiap pasangan yang kemudian menikah perlu bersama-sama menyadarinya. Kita tentu sependapat bahwa saat orang sudah memutuskan untuk menikah maka dia harus berani ”meninggalkan” egosentrisme-nya masing-masing. Hal ini ditunjukkan dengan kesediaan untuk menyesuaikan diri, dari hal-hal kecil sehari-hari hingga hal-hal yang menuntut perubahan radikal, demi kelangsungan kehidupan perkawinan itu sendiri.

Saat kita memutuskan untuk menikah, yang tidak kalah penting dan sering menjadi masalah dalam kehidupan perkawinan dalam budaya kita adalah ”kehadiran” keluarga asal kita. ”Kehadiran” keluarga asal tersebut tidak seharusnya mengambil ”area” yang lebih besar dibanding yang disediakan untuk keluarga yang baru kita bentuk dengan pasangan.

Kehadiran keluarga asal seharusnya ikut mendorong kencang laju bahtera kehidupan rumah tangga dan bukan menjadi penghalangnya. Di area ini, individu-individu yang telah memutuskan untuk menikah seringkali ditantang untuk berani mengubah paradigma dan membuat pilihan-pilihan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Membangun komunikasi yang tulus sehingga lebih mendengarkan aspirasi pasangan seringkali merupakan langkah awal yang baik.

Bagi keluarga asal, baik itu orang tua maupun saudara-saudara kandung, penghargaan terhadap individu di dalam keluarganya yang telah memutuskan untuk menikah adalah hal yang sudah semestinya dilakukan. Hal ini terwujud antara lain dengan kesediaan mulai melonggarkan ikatan-ikatan yang posesif dan pemberian kepercayaan pada individu tersebut untuk mulai bertanggung jawab terhadap kehidupannya sendiri.

Konflik di awal perkawinan akibat kehadiran keluarga masing-masing pasangan memang umum terjadi. Dengan melihat unsur budaya, kita juga dapat memahami alasan kemunculannya. Disinilah tanggung jawab dan kedewasaan setiap individu yang akan menikah diuji. Jika kita tidak mencoba menjadi bertanggung jawab atas pilihan kita saat membangun keluarga baru dan justru lebih mengedepankan egosentrisme masing-masing, akan muncul konflik berkepanjangan.

Konflik seperti ini bisa jadi bukan merupakan konflik positif sebagai suatu cara pasangan baru untuk saling menyesuaikan diri namun justru bisa menjadi indikasi tidak adanya kedewasaan dan tanggung jawab saat individu-individu memutuskan untuk menikah. Jika ini terjadi, perkawinan akan sulit untuk ”melaju kencang” bahkan dalam semakin banyak kasus, tidak dapat lagi dipertahankan.
Y. Heri Widodo, S.Psi., M.Psi, Dosen pada Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

et cetera
%d bloggers like this: